Enry Danil, Head of Fixed Income PT Syailendra Capital, mengatakan harga surat utang negara (SUN) saat ini sudah relatif tinggi dan membuat investor akan menunggu untuk melihat hasil dari Pilpres 2019.
"Kisaran tingkat imbal hasil [yield] seri acuan 10 tahun akan relatif sama seperti sekarang yang di kisaran 7,7%-7,8% hingga April," ujar Enry dalam wawancara dengan CNBC TV Indonesia hari ini, Jumat (8/2/19).
Pergerakan harga dan yield saling bertolak belakang di pasar obligasi. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.
SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.
Meskipun masih menunggu hasil pemilu, Enry punya prediksi terkait pasar obligasi setelah pemilu untuk masing-masing skenario jika hasil pemilu sudah jelas.
Prediksi tersebut berdasarkan analisis dan dengar pendapat dengan investor baik lokal maupun investor asing.
Jika petahana menang atau Joko Widodo - Ma'ruf Amin, ujar Enry, pasar obligasi diprediksi akan mengalami euforia untuk 2 bulan-3 bulan ke depan.
Di sisi lain, jika kubu penantang yang memenangkan pilpres, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, maka pada periode 2-3 bulan tadi pelaku pasar akan lebih menunggu kebijakan pemerintahan baru.
"Setelah arah pemerintahan jelas, baru nanti kami prediksi lagi."
Namun, lanjutnya, untuk investor dengan horizon investasi 3-5 tahun maka kondisi pasar obligasi pemerintah rupiah masih tetap menjanjikan terutama karena saat ini yield investasi pasar SUN masih menjadi yang paling tinggi ketiga dibanding negara berkembang lain, terutama dari tingkat real return.
Real return adalah ukuran keuntungan yang berpotensi dikantongi investor dari sebuah instrumen investasi dikurangi tingkat inflasi.
Posisi real return pasar obligasi Indonesia, turut Enry, masih menarik karena laju inflasi Indonesia saat ini di kisaran 3% sudah sangat rendah dan lebih baik dibanding 5 tahun yang lalu.
Hari ini, pasar obligasi ditutup terkoreksi, setelah masuknya sentimen negatif global dan pengumuman data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tahun 2018 yang mengalami defisit sebesar US$ 7,1 miliar, terparak sejak 2013.
Koreksi pasar terjadi sejak kemarin setelah sebelumnya menguat beruntun dan sangat signifikan sejak akhir Januari.
Penguatan terjadi hingga membuat yield SUN menyamai posisi pada Agustus tahun lalu.
Turunnya harga SUN itu tidak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.
Data Refinitiv menunjukkan, terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).
Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.
SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.
Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0063 bertenor 5 tahun, FR0064 bertenor 10 tahun, FR0065 bertenor 15 tahun, dan FR0075 bertenor 30 tahun.
Seri acuan paling terkoreksi adalah FR0068 dengan kenaikan yield 6,6 basis poin (bps) menjadi 7,85%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.
Tiga seri acuan lain yaitu seri 5 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun juga terkoreksi.
Yield Obligasi Negara Acuan 8 Feb 2019 | |||||
Seri | Jatuh tempo | Yield 7 Feb 2019 (%) | Yield 8 Feb 2019 (%) | Selisih (basis poin) | Yield wajar IBPA 8 Feb'19 |
FR0077 | 5 tahun | 7.701 | 7.737 | 3.60 | 7.7031 |
FR0078 | 10 tahun | 7.79 | 7.856 | 6.60 | 7.8399 |
FR0068 | 15 tahun | 8.036 | 8.073 | 3.70 | 8.0548 |
FR0079 | 20 tahun | 8.166 | 8.209 | 4.30 | 8.1890 |
Avg movement | 4.55 |
Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.
Indeks tersebut turun 0,54 poin (0,23%) menjadi 241,04 dari posisi kemarin 241,59. Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 520 bps, melebar dari posisi kemarin 508 bps.
Yield US Treasury 10 tahun turun hingga 2,65% dari posisi kemarin 2,69%.
Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada tenor 2 tahun-5 tahun, yaitu lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding seri lebih panjang.
Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjaid kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.
Yield US Treasury Acuan 8 Feb 2019 | |||||
Seri | Benchmark | Yield 7 Feb 2019 (%) | Yield 8 Feb 2019 (%) | Selisih (Inversi) | Satuan Inversi |
UST BILL 2019 | 3 Bulan | 2.412 | 2.417 | 3 bulan-5 tahun | -4.3 |
UST 2020 | 2 Tahun | 2.479 | 2.479 | 2 tahun-5 tahun | 1.9 |
UST 2021 | 3 Tahun | 2.451 | 2.454 | 3 tahun-5 tahun | -0.6 |
UST 2023 | 5 Tahun | 2.458 | 2.46 | 3 bulan-10 tahun | -23.3 |
UST 2028 | 10 Tahun | 2.654 | 2.65 | 2 tahun-10 tahun | -17.1 |
Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 925,68 triliun SBN, atau 37,99% dari total beredar Rp 2.436 triliun berdasarkan data per 7 Februari.
Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 32,43 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama.
Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan hanya dialami pasar India, Malaysia, dan Singapura sedangkan sisanya masih terkoreksi.
Di negara maju, penguatan dialami pasar bun Jerman, pasar JGB Jepang, dan pasar US Treasury di AS.
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang | |||
Negara | Yield 7 Feb 2019 (%) | Yield 8 Feb 2019 (%) | Selisih (basis poin) |
Brasil | 8.93 | 8.99 | 6.00 |
China | 3.135 | 3.15 | 1.50 |
Jerman | 0.113 | 0.111 | -0.20 |
Perancis | 0.544 | 0.561 | 1.70 |
Inggris | 1.178 | 1.179 | 0.10 |
India | 7.566 | 7.524 | -4.20 |
Italia | 2.948 | 2.941 | -0.70 |
Jepang | -0.008 | -0.026 | -1.80 |
Malaysia | 4.047 | 4.025 | -2.20 |
Filipina | 6.193 | 6.283 | 9.00 |
Rusia | 8.14 | 8.16 | 2.00 |
Singapura | 2.169 | 2.135 | -3.40 |
Thailand | 2.415 | 2.46 | 4.50 |
Turki | 14.03 | 14.08 | 5.00 |
Amerika Serikat | 2.654 | 2.652 | -0.20 |
Afrika Selatan | 8.635 | 8.645 | 1.00 |
TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/tas)
https://www.cnbcindonesia.com/market/20190208184424-17-54584/harga-obligasi-diprediksi-stagnan-hingga-pilpres-april-2019https://desimpul.blogspot.com/2019/02/harga-obligasi-diprediksi-stagnan_8.html
No comments:
Post a Comment